Awalnya Dia hanyalah teman
biasa,teman jalan-jalan biasa dan teman smsan biasa. Sebut saja dia “Rudy”.
Pagi itu Rudy sms mengajak aku untuk jalan-jalan bareng
“Ra dolan yo??! Gelem rak?!” sejenak aku berfikir untuk menerima atau
menolak ajakan Rudy. Akhirnya aku membalas smsnya walapun aku belum putuskan
menerima atau menolak ajakannya.
“Emg
dolan nangdi to rud?”. Setelah sekian menit aku menunggu balasannya
akhirnya Rudy membalas smsku. Dalam balasan sms itu Rudy sedikit memaksa untuk
aku mau di ajaknya jalan-jalan. Dan akhirnya aku menerima ajakan Rudy.
“Oke Rud,tp jgn sore2 ya plg.a?? mw ktm dmn??”
Akhirnya
aku dan Rudy sepakat untuk jalan-jalan dan Rudy menungguku dirumah Ingga. Ingga
adalah sahabat karibku dari SD dulu yang sering di panggil dengan nama “Pezex”.
Nama lengkapku adalah Meynara Avila Risma dan sapaan akrabku adalah “Nara”.
“Zex
Nara udah ke rumahmu lom??” Tanya Rudy pada Ingga.
“Batang
hidungnya aja lom kelihatan kok, ya mestine lom to Rud!!” Jawab Ingga
dengan nada sedikit sewot.
Dengan
sabarnya Rudy menunggu kedatanganku. Berapa menit berlalu Akhirnya aku dating
dengan terburu-buru.
“Sorry ya Rud, agak
lama ya nunggunya?? Hehe…”. Kataku
dengan nada agak bersalah.
“Emt ya lumyan lama
sih,,,lama amat sih dandannya??”
Jawab Rudy.
“Hehe biasa to
cewek” jawabku.
Pagi
itu aku dan Rudy berabgkat untuk jalan-jalan.
“Mau kemana sih Rud??” Tanyaku.
“Entah !” jawab Rudy ketus.
“Huh nyebelin amat sih ni anak …!”
gerutuku dalam hati.
Selama
perjalanan aku hanya diam membisu sambil memandangi pemandangan yang aku lewati.
Setelah beberapa menit ku melewati perjalanan bersama Rudy akhirnya aku sampai
di suatu tempat yang indah namun aku tak tahu dimana tempat tersebut dan nama
tempat ini yang jelas aku suka tempat
ini. Tanpa bicara banyak Rudy langsung menggandeng tanganku dan mengajak ku
untuk mencari tempat duduk.
"Kita duduk dulu disini ya?" tanya Rudy.
"Manut waelah." jawabku.
"Kok tumben sih kamu ngajak
jalan-jalan?"
tanyaku.
"Ya gak papa to, emang kamu
keberatan aku ajak jalan?" jawabnya ketus.
Aku tidak meneruskan percakapan dan aku hanya diam, bila
Rudy tak bertanya dulu aku tak akan angkat bicara dulu. Sekian menit aku dan
Rudy hanya diam dan diam. Mungkin Rudy nggak betah dengan suasana diam seperti
ini dan akhirnya Rudypun angkat bicara duluan.
"Ra, kamu udah punya cowok
belum?"
Sekilas pertanyaan Rudy membuatku tertegun dan bingung mau menjawab apa.
"Emang kenapa, Rud?" tanyaku balik.
"Emt.. Nggakpapa kok!"
"Plin plan banget sih ni
cowok!"
gerutuku dalam hati.
Aku hanya terdiam sambil menikmati suasana indah di tempat
ini.
"Ra, makan yo!" ajak Rudy.
"Emt.. Emang kamu laper
pow?" tanyaku.
"Ya gak begitu laper sih, tapi
aku pengen tahu rasanya makan bareng kamu." katanya sambil tersenyum manis.
"Emt.. Manis juga senyumnya.
Hehehe."
kataku dalam hati.
Akhirnya aku menerima ajakan Rudy untuk makan.
"Kamu mau makan apa, Ra?" tanya Rudy menawarkan.
"Emt... Nasi goreng aja
lah." jawabku.
"Okelah aku juga sama." sambung Rudy.
"Enak gak?" tanya Rudy.
"Emt.. Enak kok." jawabku sambil tersenyum kecil.
Ketika itu juga tiba-tiba Rudy mengusap sesuatu yang ada di
sebelah bibirku.
"Ehm.. Sorry ya, Ra, aku
bersi'in."
"Hehe. Makasih ya, Rud." sahutku.
Sewaktu makan, Rudy memperhatikanku dengan penuh perhatian.
Sejenak aku berfikir dan bingung kenapa Rudy sampe segitunya merhatiin aku.
"Napa sih, Rud, dari tadi
ngeliatin aku? Ada yang aneh po?" tanyaku pada Rudy.
"Ehm.. Nggak kok! Ehm..
Ternyata kamu manis juga ya kalo di perhati'in!" kata Rudy sambil tersenyum manis.
"Baru tau po?" jawabku sambil tersenyum kecil.
"Hehehe."
"PD banget sih." celetuk Rudy.
"Biarin tow." sambungku.
Setelah selesai makan bareng Rudy di warung makan
"Mampir Lagi" Rudy pergi mengajakku ke suatu tempat yang juga tidak
tahu apa nama tempat tersebut.
"Tempat ini indah banget,
Rud."
"Jelas dong." Sambung Rudy.
Tiba-tiba saja Rudy memegang tanganku dengan lembut dan
menatapku dalam banget, entah apa yang akan dia katakan namun, matanya seolah
ingin berbicara.
"Ra, gue boleh tanya sesuatu
nggak?"
tanya Rudy.
"Boleh." jawabku.
"Aku boleh gak jadi penjaga
hatimu?"
Pertanyaan Rudy sekilas membuatku terkejut dan aku bingung
mau jawab apa, yang jelas memang aku udah ada rasa sama Rudy dari dulu.
Pertanyaan Rudy aku jawab dengan sebuah anggukan dan senyuman.
"Serius, Ra?" tanya Rudy seolah tak percaya.
"Iya, serius." sahutku.
"Yes!" seru Rudy.
"Hehe." aku hanya tersenyum kecil.
"Rud, pulang yuk, udah jam
setengah 3 nih!"
ajak ku kepada Rudy.
"Oke, sayang, kita pulang.
Hehe."
sambung Rudy sambil mencubit pipiku.
"Ah... Biasa aja to, Rud. Lebay
banget sih."
"Iya-iya, gitu aja
manyun."
kata Rudy.
Keesokan paginya ketika aku mau berangkat sekolah tiba-tiba
saja sudah ada seorang cowok yang menyambutku dengan sebuah senyuman yang
manis, yang tak lain adalah Rudy cowok yang kini telah mengisi hatiku Rudy
cowok yang kini telah mengisi hatiku dan hari-hariku.
"Berangkat bareng yuk!" ajak Rudy.
"Okelah." sambungku sambil membalas senyuman
Rudy.
Aku dan Rudy berbeda sekolah, aku bersekolah di SMA Kr
Bentara Wacana, Muntilan, dan Rudy salah satu siswa di SMA 01 Magelang yang
berhasil merebut hatiku.
"Makasih ya udah nganterin
aku." sahutku
setelah turun dari motor.
"Oke, sayang. Hehe. Entar pulang
jam berapa?" tanya
Rudy.
"Gak tahu, kalo ada les Fisika
ya pulang sore."
jawabku.
"Em.. Ya udah selamat belajar,
sayang." kata
Rudy dengan senyum manisnya.
"Iya, bawel amat sih.
Hehe." jawabku.
Siang menjelang sore bel sekolah tanda pulang pun berbunyi
nyaring.
"Akhirnya pulang juga." kataku sambil menarik nafas lega.
Ketika ku mulai meninggalkan sekolah dan keluar gerbang
tampak senyuman manis telah menyambut kedatanganku.
"Tuh udah dijemput sang
pangeran." kata
Tiyas sambil tersenyum.
"Hehe. Biasa aja to, yas."
sambungku.
"Aku duluan ya." kata Tiyas sambil berlalu meninggalkanku
dan melambaikan tangan.
"Ehm. Oke deh." sahutku dan membalas lambaiannya.
"Pulang yuk!" ajak Rudy.
"Iya lah masak mau ngluyur
to!" sambungku.
Siang itu rasanya mentari seolah tersenyum bahagia seperti
merasakan kebahagiaanku. Sesampainya di depan rumah, ku ucapkan terima kasih
pada Rudy dan kulambaikan tangan serta senyuman mengiringi berlalunya Rudy dari
hadapanku. Malam harinya seusai belajar, ku terima SMS dari Rudy.
"Mlm synx, udah bljr blm?" isi dari SMS itu.
Lalu ku balas SMS darinya,
"Mlm jg, udah kok! Kamu?"
Akhirnya sang waktu telah menunjukkan waktu pukul 09.00.
Sebuah SMS dari Rudy masuk ke ponselku dan isi SMS itupun membuatku tersenyum
bahagia.
"Aku bersyukur memilikimu dan
ku mau kau pun begitu." seperti itulah isi dari sebuah SMS yang menurutku berarti.
Hari demi hari, 1 bulan sudah ku jalani hariku bersama Rudy,
masalah baru mulai muncul, ya masalah antara aku, Rudy, dan Rani. Rani tidak
suka melihat kebahagiaanku bersama Rudy. Rani adalah seorang cewek satu desa
dengan Rudy yang juga ingin memiliki hati Rudy.
"Rud, salah ya aku sayang sama
kamu?" tanyaku.
"Enggak kok, kata siapa?" Rudy berbalik tanya.
"Rani" jawabku.
"Udah, gak usah dengerin
kata-kata dia." sambung
Rudy menenangkanku dan menghapus air mataku yang mulai menetes di pipiku.
Aku akui kecantikan Rani emang gak perlu di tanya lagi. Ada
saja yang dibuatnya agar aku putus dengan Rudy namun ku mencoba untuk bersabar.
Pada suatu hari, kami bertiga bertemu. Tampak wajah Rani yang kegenitan pada
Rudy namun ku coba untuk diam dan tenang.
"Heh, Rud. Mau-maunya sih kamu
punya cewek kayak dia!" kata Rani ketus.
"Nara tu cewek gue, masalah
buat loe?" sambung
Rudy yang tak kalah ketus.
"Udah-udah gak usah
berantem." kataku
sambil mencoba menenangkan suasana.
Akhirnya pertentangan itu selesai, walaupun Rani belum bisa
menerima hubunganku dengan Rudy. Malam harinya, seperti biasa aku SMS'an sama
Rudy sambil tiduran di kamar tercinta. Malam hari ini serasa berbeda dari
malam-malam sebelumnya. Malam ini ku merasa gelisah. Aku terlalu takut untuk
kehilangan Rudy. Kegelisahan itupun ku ungkapkan kepada Rudy lewat SMS dan Rudy
pun meyakinkan diriku.
"Aku ngerti kok apa yang kamu
rasain, kamu tenang aja. Aku sayang kamu dengan tulus, gak ada yang bisa
ganti'in kecerewetanmu yang bikin kamu itu ngangenin, senyum manismu pun gx ad
yg bisa ganti'in." begitulah
isi SMS dari Rudy yang berusaha untuk menenangkanku.
"Aku percaya kata-katamu, karna
orang berpacaran adalah atas dasar saling percaya." begitu aku membalas SMS dari Rudy.
Malam semakin larut dan tak terasa jam menunjukkan pukul
09.30 namun mengapa mata ini enggan beristirahat? Tanyaku dalam hati. Malam ini
Rudy berusaha untuk meyakinkan dan menenangkan hatiku yang sedang galau.
Mungkin kata Rudy itu benar.
"Seseorang yang sudah
menyayangi tidak akan pernah mengecewakan seseorang yang ia sayangi tanpa suatu
hal yang membuatnya seperti itu."
Namun aku tidak ingin merasakan sakit hati untuk kedua
kalinya, dan malam ini ku akhiri hari dengan satu keyakinan bahwa ku yakin Rudy
memang sungguh-sungguh benar-benar menyayangiku. Tiba-tiba ponselku berbunyi
yang bertanda ada telepon masuk dan tak salah lagi itu adalah telepon dari
Rudy. Tak ku sangka tiba-tiba saja dia melantunkan sebuah lagu yang sangat
mengejutkanku, lagu yang membawaku ke dalam kenanganku.
"Kau mampu membuatku tersenyum
dan kau bisa membuat nafasku berarti, kau jaga slalu hatimu saat jauh dariku
tunggu aku kembali, ku mencintaimu slalu, menyayangimu sampai akhir menutup
mata."
Selarik nada itulah yang menghantarku dalam tidurku dan mimpiku bersama Rudy
dan berharap esok pagi menjadi hari yang lebih baik.
God bless me.
.