Rabu, 28 November 2012




Karena Aku Ingin Dimengerti
 



            Awalnya Dia hanyalah teman biasa,teman jalan-jalan biasa dan teman smsan biasa. Sebut saja dia “Rudy”. Pagi itu Rudy sms mengajak aku untuk jalan-jalan bareng
            “Ra dolan yo??! Gelem rak?!” sejenak aku berfikir untuk menerima atau menolak ajakan Rudy. Akhirnya aku membalas smsnya walapun aku belum putuskan menerima atau menolak ajakannya.
            “Emg dolan nangdi to rud?”. Setelah sekian menit aku menunggu balasannya akhirnya Rudy membalas smsku. Dalam balasan sms itu Rudy sedikit memaksa untuk aku mau di ajaknya jalan-jalan. Dan akhirnya aku menerima  ajakan Rudy.
             “Oke Rud,tp jgn sore2 ya plg.a?? mw ktm dmn??”
Akhirnya aku dan Rudy sepakat untuk jalan-jalan dan Rudy menungguku dirumah Ingga. Ingga adalah sahabat karibku dari SD dulu yang sering di panggil dengan nama “Pezex”. Nama lengkapku adalah Meynara Avila Risma dan sapaan akrabku adalah “Nara”.
            “Zex Nara udah ke rumahmu lom??” Tanya Rudy pada Ingga.
            “Batang hidungnya aja lom kelihatan kok, ya mestine lom to Rud!!” Jawab Ingga dengan nada sedikit sewot.
Dengan sabarnya Rudy menunggu kedatanganku. Berapa menit berlalu Akhirnya aku dating dengan terburu-buru.
“Sorry ya Rud, agak lama ya nunggunya?? Hehe…”. Kataku dengan nada agak bersalah.
“Emt ya lumyan lama sih,,,lama amat sih dandannya??” Jawab Rudy.
“Hehe biasa to cewek” jawabku.
Pagi itu aku dan Rudy berabgkat untuk jalan-jalan.
            “Mau kemana sih Rud??” Tanyaku. “Entah !” jawab Rudy ketus.
            “Huh nyebelin amat sih ni anak …!” gerutuku dalam hati.
Selama perjalanan aku hanya diam membisu sambil memandangi pemandangan yang aku lewati. Setelah beberapa menit ku melewati perjalanan bersama Rudy akhirnya aku sampai di suatu tempat yang indah namun aku tak tahu dimana tempat tersebut dan nama tempat  ini yang jelas aku suka tempat ini. Tanpa bicara banyak Rudy langsung menggandeng tanganku dan mengajak ku untuk mencari tempat duduk.
"Kita duduk dulu disini ya?" tanya Rudy.
"Manut waelah." jawabku.
"Kok tumben sih kamu ngajak jalan-jalan?" tanyaku.
"Ya gak papa to, emang kamu keberatan aku ajak jalan?" jawabnya ketus.
Aku tidak meneruskan percakapan dan aku hanya diam, bila Rudy tak bertanya dulu aku tak akan angkat bicara dulu. Sekian menit aku dan Rudy hanya diam dan diam. Mungkin Rudy nggak betah dengan suasana diam seperti ini dan akhirnya Rudypun angkat bicara duluan.
"Ra, kamu udah punya cowok belum?" Sekilas pertanyaan Rudy membuatku tertegun dan bingung mau menjawab apa.
"Emang kenapa, Rud?" tanyaku balik.
"Emt.. Nggakpapa kok!"
"Plin plan banget sih ni cowok!" gerutuku dalam hati.
Aku hanya terdiam sambil menikmati suasana indah di tempat ini.
"Ra, makan yo!" ajak Rudy.
"Emt.. Emang kamu laper pow?" tanyaku.
"Ya gak begitu laper sih, tapi aku pengen tahu rasanya makan bareng kamu." katanya sambil tersenyum manis.
"Emt.. Manis juga senyumnya. Hehehe." kataku dalam hati.
Akhirnya aku menerima ajakan Rudy untuk makan.
"Kamu mau makan apa, Ra?" tanya Rudy menawarkan.
"Emt... Nasi goreng aja lah." jawabku.
"Okelah aku juga sama." sambung Rudy.
"Enak gak?" tanya Rudy.
"Emt.. Enak kok." jawabku sambil tersenyum kecil.
Ketika itu juga tiba-tiba Rudy mengusap sesuatu yang ada di sebelah bibirku.
"Ehm.. Sorry ya, Ra, aku bersi'in."
"Hehe. Makasih ya, Rud." sahutku.
Sewaktu makan, Rudy memperhatikanku dengan penuh perhatian. Sejenak aku berfikir dan bingung kenapa Rudy sampe segitunya merhatiin aku.
"Napa sih, Rud, dari tadi ngeliatin aku? Ada yang aneh po?" tanyaku pada Rudy.
"Ehm.. Nggak kok! Ehm.. Ternyata kamu manis juga ya kalo di perhati'in!" kata Rudy sambil tersenyum manis.
"Baru tau po?" jawabku sambil tersenyum kecil.
"Hehehe."
"PD banget sih." celetuk Rudy.
"Biarin tow." sambungku.
Setelah selesai makan bareng Rudy di warung makan "Mampir Lagi" Rudy pergi mengajakku ke suatu tempat yang juga tidak tahu apa nama tempat tersebut.
"Tempat ini indah banget, Rud."
"Jelas dong." Sambung Rudy.
Tiba-tiba saja Rudy memegang tanganku dengan lembut dan menatapku dalam banget, entah apa yang akan dia katakan namun, matanya seolah ingin berbicara.
"Ra, gue boleh tanya sesuatu nggak?" tanya Rudy.
"Boleh." jawabku.
"Aku boleh gak jadi penjaga hatimu?"
Pertanyaan Rudy sekilas membuatku terkejut dan aku bingung mau jawab apa, yang jelas memang aku udah ada rasa sama Rudy dari dulu. Pertanyaan Rudy aku jawab dengan sebuah anggukan dan senyuman.
"Serius, Ra?" tanya Rudy seolah tak percaya.
"Iya, serius." sahutku.
"Yes!" seru Rudy.
"Hehe." aku hanya tersenyum kecil.
"Rud, pulang yuk, udah jam setengah 3 nih!" ajak ku kepada Rudy.
"Oke, sayang, kita pulang. Hehe." sambung Rudy sambil mencubit pipiku.
"Ah... Biasa aja to, Rud. Lebay banget sih."
"Iya-iya, gitu aja manyun." kata Rudy.
Keesokan paginya ketika aku mau berangkat sekolah tiba-tiba saja sudah ada seorang cowok yang menyambutku dengan sebuah senyuman yang manis, yang tak lain adalah Rudy cowok yang kini telah mengisi hatiku Rudy cowok yang kini telah mengisi hatiku dan hari-hariku.
"Berangkat bareng yuk!" ajak Rudy.
"Okelah." sambungku sambil membalas senyuman Rudy.
Aku dan Rudy berbeda sekolah, aku bersekolah di SMA Kr Bentara Wacana, Muntilan, dan Rudy salah satu siswa di SMA 01 Magelang yang berhasil merebut hatiku.
"Makasih ya udah nganterin aku." sahutku setelah turun dari motor.
"Oke, sayang. Hehe. Entar pulang jam berapa?" tanya Rudy.
"Gak tahu, kalo ada les Fisika ya pulang sore." jawabku.
"Em.. Ya udah selamat belajar, sayang." kata Rudy dengan senyum manisnya.
"Iya, bawel amat sih. Hehe." jawabku.
Siang menjelang sore bel sekolah tanda pulang pun berbunyi nyaring.
"Akhirnya pulang juga." kataku sambil menarik nafas lega.
Ketika ku mulai meninggalkan sekolah dan keluar gerbang tampak senyuman manis telah menyambut kedatanganku.
"Tuh udah dijemput sang pangeran." kata Tiyas sambil tersenyum.
"Hehe. Biasa aja to, yas." sambungku.
"Aku duluan ya." kata Tiyas sambil berlalu meninggalkanku dan melambaikan tangan.
"Ehm. Oke deh." sahutku dan membalas lambaiannya.
"Pulang yuk!" ajak Rudy.
"Iya lah masak mau ngluyur to!" sambungku.
Siang itu rasanya mentari seolah tersenyum bahagia seperti merasakan kebahagiaanku. Sesampainya di depan rumah, ku ucapkan terima kasih pada Rudy dan kulambaikan tangan serta senyuman mengiringi berlalunya Rudy dari hadapanku. Malam harinya seusai belajar, ku terima SMS dari Rudy.
"Mlm synx, udah bljr blm?" isi dari SMS itu.
Lalu ku balas SMS darinya,
"Mlm jg, udah kok! Kamu?"
Akhirnya sang waktu telah menunjukkan waktu pukul 09.00. Sebuah SMS dari Rudy masuk ke ponselku dan isi SMS itupun membuatku tersenyum bahagia.
"Aku bersyukur memilikimu dan ku mau kau pun begitu." seperti itulah isi dari sebuah SMS yang menurutku berarti.
Hari demi hari, 1 bulan sudah ku jalani hariku bersama Rudy, masalah baru mulai muncul, ya masalah antara aku, Rudy, dan Rani. Rani tidak suka melihat kebahagiaanku bersama Rudy. Rani adalah seorang cewek satu desa dengan Rudy yang juga ingin memiliki hati Rudy.
"Rud, salah ya aku sayang sama kamu?" tanyaku.
"Enggak kok, kata siapa?" Rudy berbalik tanya.
"Rani" jawabku.
"Udah, gak usah dengerin kata-kata dia." sambung Rudy menenangkanku dan menghapus air mataku yang mulai menetes di pipiku.
Aku akui kecantikan Rani emang gak perlu di tanya lagi. Ada saja yang dibuatnya agar aku putus dengan Rudy namun ku mencoba untuk bersabar. Pada suatu hari, kami bertiga bertemu. Tampak wajah Rani yang kegenitan pada Rudy namun ku coba untuk diam dan tenang.
"Heh, Rud. Mau-maunya sih kamu punya cewek kayak dia!" kata Rani ketus.
"Nara tu cewek gue, masalah buat loe?" sambung Rudy yang tak kalah ketus.
"Udah-udah gak usah berantem." kataku sambil mencoba menenangkan suasana.
Akhirnya pertentangan itu selesai, walaupun Rani belum bisa menerima hubunganku dengan Rudy. Malam harinya, seperti biasa aku SMS'an sama Rudy sambil tiduran di kamar tercinta. Malam hari ini serasa berbeda dari malam-malam sebelumnya. Malam ini ku merasa gelisah. Aku terlalu takut untuk kehilangan Rudy. Kegelisahan itupun ku ungkapkan kepada Rudy lewat SMS dan Rudy pun meyakinkan diriku.
"Aku ngerti kok apa yang kamu rasain, kamu tenang aja. Aku sayang kamu dengan tulus, gak ada yang bisa ganti'in kecerewetanmu yang bikin kamu itu ngangenin, senyum manismu pun gx ad yg bisa ganti'in." begitulah isi SMS dari Rudy yang berusaha untuk menenangkanku.
"Aku percaya kata-katamu, karna orang berpacaran adalah atas dasar saling percaya." begitu aku membalas SMS dari Rudy.
Malam semakin larut dan tak terasa jam menunjukkan pukul 09.30 namun mengapa mata ini enggan beristirahat? Tanyaku dalam hati. Malam ini Rudy berusaha untuk meyakinkan dan menenangkan hatiku yang sedang galau. Mungkin kata Rudy itu benar.
"Seseorang yang sudah menyayangi tidak akan pernah mengecewakan seseorang yang ia sayangi tanpa suatu hal yang membuatnya seperti itu."
Namun aku tidak ingin merasakan sakit hati untuk kedua kalinya, dan malam ini ku akhiri hari dengan satu keyakinan bahwa ku yakin Rudy memang sungguh-sungguh benar-benar menyayangiku. Tiba-tiba ponselku berbunyi yang bertanda ada telepon masuk dan tak salah lagi itu adalah telepon dari Rudy. Tak ku sangka tiba-tiba saja dia melantunkan sebuah lagu yang sangat mengejutkanku, lagu yang membawaku ke dalam kenanganku.
"Kau mampu membuatku tersenyum dan kau bisa membuat nafasku berarti, kau jaga slalu hatimu saat jauh dariku tunggu aku kembali, ku mencintaimu slalu, menyayangimu sampai akhir menutup mata." Selarik nada itulah yang menghantarku dalam tidurku dan mimpiku bersama Rudy dan berharap esok pagi menjadi hari yang lebih baik.
God bless me.



.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar